Novaya Svobgakenyataan yang tidak diharapkan ternyata adalah nasib
novayasvobga
read my profile
sign my guestbook

Visit novayasvobga's Xanga Site!

Name: Novaya
Gender: Male


Message: message me


Member Since: 1/13/2007

SubscriptionsSites I Read

Posting Calendar

|<< oldest | newest >>|
view all weblog archives

Get Involved!

Suggest a link

Recommend to friend

Create a site


Monday, February 19, 2007

Prospek Ekonomi Kita 2007
Oleh: Vincent Wijaya

Ekonomi kita sepanjang 2006 tidaklah menggembirakan. Pemerintah bisa menyatakan terjadi banyak perbaikan. Termasuk inflasi hanya 6,60 persen dan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan mencapai 5,8 persen, rupiah stabil, cadangan devisa meningkat, defisit APBN turun.

Memang kinerja 2006 tentu lebih baik jika dibandingkan dengan 2005. Tapi tak lebih bagus dari 2004. Saya bisa menyatakan pertumbuhan ekonomi kita tahun lalu tidak berkualitas. Menurut teori harusnya tiap pertumbuhan satu persen bisa menampung angkatan kerja hingga kurang lebih 300 ribu orang. Tetapi pertumbuhan kita tiap satu persen hanya menampung 120 ribu orang karena didominasi sektor konsumsi.

Di 2006 pula terjadi penurunan pendapatan pajak sesuai statement Menteri Keuangan. Terutama sektor properti (perumahan) dan bea masuk impor barang modal. Ini menunjukkan terjadi pengurangan lapangan kerja dan tidak ada ekspansi sektor riil atau pertambahan industri output karena impor barang modal turun.

Memang masih ada ekspor tetapi terbatas di komoditi pertanian seperti CPO (minyak sawit) dan karet sedangkan ekspor yang dihasilkan manufaktur turun. Ini jadi bukti tambahan penurunan lapangan kerja. Saya melihat pertumbuhan ekonomi kita sepanjang 2006 karena konsumsi masyarakat dan sedikit peran pengeluaran pemerintah. Realisasi investasi dan dukungan ekspor tidaklah memadai.

Bercermin dari kondisi yang terjadi pada 2006 saya bisa melihat beberapa gambaran yang akan berlangsung di 2007. Akan ada masalah yang dihadapi sepanjang tahun ini. Pertama soal pengangguran saya kira tidak akan berkurang. Malah bertambah. Indikasinya industri manufaktur tidak melakukan ekspansi. Hanya mempertahankan kondisi yang ada agar tidak sampai tutup.

Tanpa adanya investasi baru dan kinerja ekspor hanya fokus di bahan baku, membuat industri manufaktur tak akan bisa menghasilkan lebih banyak. Pengangguran erat kaitannya dengan kemiskinan. Jadi angka pengangguran dan kemiskinan sepanjang 2007 tidak akan berkurang.

Kedua, tentang tingkat inflasi. Pengaruh yang sangat dominan dalam inflasi tahun ini adalah kenaikan gaji pegawai negeri sipil dan upah pekerja yang terus naik.

Setiap terjadi kenaikan gaji PNS dan upah biasanya harga bahan pokok juga tak bisa dihalangi untuk naik. Artinya inflasi triwulan pertama tahun ini saya kira akan tinggi.

Bahkan pegawai negeri sipil akan ikut mempengaruhi jumlah pengangguran. Pemerintah menyatakan akan merampingkan jumlah PNS dengan kompensasi kenaikan gaji. Jadi inflasi dan pengangguran di tahun ini kelihatannya masih jadi ancaman.

Penyebab inflasi dalam negeri bukan akibat daya beli yang meningkat. Dalam teori inflasi ada demand pull inflation dan cost push inflation. Kita masuk di kategori kedua, inflasi terjadi akibat naiknya biaya produksi yang banyak dipengaruhi kebijakan pemerintah. Jadi saya melihat inflasi di 2007 akan lebih tinggi.

Hal ketiga adalah soal suku bunga. BI menyatakan akan terus menurunkan suku bunga. Presiden dalam pidatonya saat membuka perdagangan pertama di Bursa Efek Jakarta meminta suku bunga terus turun. Tetapi pasti ada batas. BI tidak mungkin terus menurunkannya hingga di bawah delapan persen. Sebab bank sentral AS the Federal Reserve saat ini berada di level 5,25 persen.

Selisih yang sesuai paling tidak tiga persen. Itu pun sudah terlalu dekat. Namun begitulah idealnya. Artinya BI rate hanya akan turun maksimal menjadi 8,25 persen. Jika kondisinya begini bunga kredit ke sektor riil antara 13 sampai 14 persen dengan spread lima persen. Serendah apa pun suku bunga tetap akan bergantung pada kemampuan sektor riil menyerapnya.

Sejak kenaikan harga BBM Oktober 2005 sebenarnya kita sudah melakukan kesalahan. Kenaikan itu langkah taktis menyelamatkan anggaran belanja namun membuat masyarakat kian sulit. Bagaimana tidak, anggaran pendapatan bisa diselamatkan namun kemudian semua masyarakat merasakan dampaknya. Muncullah inflasi. BI pun mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga.

Rentetan tersebut terasa sampai sekarang. Secara umum kinerja tim ekonomi pemerintah tahun lalu cukup konservatif. Defisit anggaran bisa turun begitupula inflasi terkendali. Namun kedua prestasi ini tidak berdampak pada masyarakat banyak.

Defisit anggaran, misalnya, bukan berarti makin kecil makin bagus. Saya malah ingin Menteri Keuangan lebih berani menaikkan defisit namun tujuannya untuk pembangunan dan menambah lapangan kerja. Defisit yang mendorong tumbuhnya infra struktur baru sebenarnya bisa menolong masyarakat. Namun bagi pemerintah mengurangi defisit menjadi prestasi tapi tak ada untungnya buat masyarakat.

Begitupula soal inflasi. Indikator ini bisa terkendali dengan instrumen suku bunga. Adalah sebuah prestasi bisa menahannya 6,60 persen. Namun tidak ada untungnya bagi masyarakat sebab sektor riil mandeg karena suku bunga tinggi. Faktor keempat yang juga menjadi ancaman di 2007 adalah dana asing yang masuk bursa efek dan pasar keuangan.

Data yang dirilis bursa efek jakarta menunjukkan 73 persen dana yang ada di pasar modal adalah milik asing. Saya yakin ini dana panas (hot money) yang tak bisa dicegah keluar masuk.

Kenapa Thailand membuat kebijakan moneter tak sampai 24 jam dengan membekukan simpanan valas? Di Thailand paska kudeta nilai baht dan harga saham terus anjlok. Namun setelah itu dana asing dalam bentuk hot money masuk. Otomatis ini mengangkat nilai mata uang dan bursa saham mereka tapi bersifat jangka pendek. Melihat besarnya dana masuk, Thailand kemudian membekukan simpanan valas. Tapi mereka tak tahan menghadapi reaksi dan aksi pasar sehingga kebijakan itu bertahan tak sampai 24 jam. Ini merupakan warning ke RI agar memonitor hot money yang masuk atau kalau bisa mengubahnya jadi investai jangka panjang.

Hal kelima yang perlu dicermati adalah statement Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan tahun ini tak akan ada kenaikan tarif listrik dan bahan bakar minyak. Tapi ada prediksi pengamat perminyakan yang menyatakan harga minyak dunia akan menjadi 75 dolar AS oleh faktor geopolitik dari Iran, Korea Utara, Nigeria dan OPEC.

Bolehlah presiden menyatakan tidak naik, tapi apakah masyarakat bisa menerima layanan yang mereka terima sepanjang 2006. Bahan bakar (minyak tanah langka) dan listrik terus-terusan padam. Kedua komoditi bermasalah ini tak bisa segera diatasi. Saya berkesimpulan 2007 masih banyak masalah. Namun bagaimana pun kita harus optimis.

Ini hanya sebagai bahan pertimbangan untuk para pengambil keputusan mencermati kejadian-kejadian yang bisa muncul tahun ini. Apalagi di akhir 2007 gaung politik akan kian kencang menyusul beberapa pemilihan kepala daerah 2008 dan menyambut Pemilu 2009. Saya khawatir konsentrasi pemerintah membenahi sektor ekonomi jadi terpecah.

Sumber: http://www.waspada.co.id/bisnis/tinjauan_ekonomi/artikel.php?article_id=81999


Investasi Saham di Pasar Modal
Andre adalah salah satu individu yang ikut memeriahkan perdagangan saham di bursa efek Jakarta. Sudah kurang lebih 3 tahun Andre selalu mengikuti dan bertransaksi saham. Semua keputusan dilakukan oleh dirinya sendiri dengan mengandalkan informasi yang dilihat, didengar, maupun dibacanya. Berdasarkan penuturannya, dia memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar daripada bila ia hanya menempatkan uangnya di deposito.

Walau pasar masih dalam keadaan yang berfluktuasi, Andre melihat kesempatan di sana. Bersamaan dengan diberikannya perpanjangan waktu pembayaran utang Indonesia oleh Paris Club dan disertai dengan semakin menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga ikut terdongkrak. Andre memperoleh keuntungan dari pergerakan harga saham waktu itu.

Andre merupakan individu yang melihat juga potensi jangka panjang dari beberapa saham unggulan serta ia juga melakukan transaksi jangka pendek untuk medapatkan keuntungan. Rasa-rasanya dari cerita Andre tadi kita bisa menyimpulkan bahwa Andre termasuk individu yang beruntungan bermain di bursa saham.

Lain lagi dengan dengan Hendra. Ia juga investor individu yang turut berinvestasi di bursa saham. Ia melihat berbagai kemungkinan mendapatkan keuntungan dari berinvestasi di saham. Akan tetapi selama lebih dari 2 tahun bermain saham ia merasa bahwa belum mendapatkan keuntungan yang diinginkan alias merugi. Walau ia juga melakukan analisis sendiri serta mengikuti berbagai informasi yang diberikan oleh para pakar investasi atau analis profesional.

Jadi mungkin timbul pertanyaan, bagaimana sih menyiasati berinvestasi pada saham? Serta apa untung dan ruginya berinvestasi di saham? Mengapa pasar modal atau bursa saham berkembang hampir di semua negara di dunia? Apa manfaat dari keberadaan pasar modal? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar investasi saham dan keberadaan pasar modal, khususnya di Indonesia. Melalui artikel kali ini kami ingin membagikan informasi serta pengertian dasar dari istilah tadi serta kemungkinan Anda untuk juga berpastisipasi di dalamnya.


Apa Itu Pasar Modal dan Manfaatnya
Pada dasarnya, pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang ataupun modal sendiri. Instrumen-instrumen keuangan yang diperjualbelikan di pasar modal seperti saham, obligasi, waran, right, obligasi konvertibel, dan berbagai produk turunan (derivatif) seperti opsi (put atau call).

Di dalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pengertian pasar modal dijelaskan lebih spesifik sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan Perdagangan Efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.

Pasar modal memberikan peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal memberikan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal maka perusahaan publik dapat memperoleh dana segar masyarakat melalui penjualan Efek saham melalui prosedur IPO atau efek utang (obligasi).

Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih. Jadi diharapkan dengan adanya pasar modal aktivitas perekonomian menjadi meningkat karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan untuk dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dan pada akhirnya memberikan kemakmuran bagi masyarakat yang lebih luas.

Secara umum, manfaat dari keberadaan pasar modal adalah: • Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi dana secara optimal. • Memberikan wahana investasi yang beragam bagi investor sehingga memungkinkan untuk melakukan diversifikasi. Alternatif investasi memberikan potensi keuntungan dengan tingkat risiko yang dapat diperhitungkan. • Menyediakan leading indicator bagi perkembangan perekonomian suatu negara. • Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat menengah. • Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme menciptakan iklim berusaha yang sehat serta mendorong pemanfaatan manajemen profesional.

Apa Itu Saham?
Setelah kita mengikuti sedikit perihal pasar modal, manfaatnya bagi masyarakat dan perusahaan khususnya serta negara pada umumnya, sekarang kita akan membahas perihal saham, salah satu produk yang diperjualbelikan di pasar modal.

Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perusahaan terbatas. Wujud saham berupa selembar kertas yang menerangkan siapa pemiliknya. Akan tetapi, sekarang ini sistem tanpa warkat sudah mulai dilakukan di pasar modal Jakarta dimana bentuk kepemilikan tidak lagi berupa lembaran saham yang diberi nama pemiliknya tapi sudah berupa account atas nama pemilik atau saham tanpa warkat. Jadi penyelesaian transaksi akan semakin cepat dan mudah.

Saham atau ekuitas merupakan surat berharga yang sudah banyak dikenal masyarakat. Umumnya jenis saham yang dikenal adalah saham biasa (common stock).

Saham sendiri dibagi menjadi dua jenis saham, yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock).

Saham biasa, merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling yunior atau akhir terhadap pembagian dividen dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi (tidak memiliki hak-hak istimewa). Karakterisktik lain dari saham biasa adalah dividen dibayarkan selama perusahaan memperoleh laba.

Setiap pemilik saham memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (one share one vote). Pemegang saham biasa memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi sahamnya dan memiliki hak untuk mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada orang lain.

Sedangkan untuk saham preferen, merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi). Persamaan saham preferen dengan obligasi terletak pada 3 (tiga) hal: ada klaim atas laba dan aktiva sebelumnya, dividen tetap selama masa berlaku dari saham dan memiliki hak tebus dan dapat dipertukarkan dengan saham biasa.

Saham preferen lebih aman dibandingkan dengan saham biasa karena memiliki hak klaim terhadap kekayaan perusahaan dan pembagian dividen terlebih dahulu. saham preferen sulit untuk diperjualbelikan seperti saham biasa, karena jumlahnya yang sedikit.

Daya tarik dari investasi saham adalah dua keuntungan yang dapat diperoleh pemodal dengan membeli saham atau memiliki saham, yaitu dividen dan capital gain. Dividen merupakan keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Biasanya dividen dibagikan setelah adanya persetujuan pemegang saham dan dilakukan setahun sekali.

Agar investor berhak mendapatkan dividen, pemodal tersebut harus memegang saham tersebut untuk kurun waktu tertentu hingga kepemilikan saham tersebut diakui sebagai pemegang saham dan berhak mendapatkan dividen. Dividen yang diberikan perusahaan dapat berupa dividen tunai, dimana pemodal atau pemegang saham mendapatkan uang tunai sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki dan dividen saham dimana pemegang saham mendapatkan jumlah saham tambahan.

Sedangkan capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual yang terjadi. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan di pasar sekunder. Sebagai contoh, misal saja Anda membeli saham Astra International dengan harga per sahamnya Rp 1.800 dan menjual dengan harga Rp 2.200 berarti Anda mendapatkan capital gain sebesar Rp 400 per lembar sahamnya. Umumnya investor jangka pendek mengharapkan keuntungan dari capital gain.

Saham dikenal memiliki karakteristik high risk-high return. Artinya saham merupakan surat berharga yang memberikan peluang keuntungan yang tinggi namun juga berpotensi risiko tinggi. Saham memungkinkan pemodal mendapatkan keuntungan (capital gain) dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Namun seiring dengan berfluktuasinya harga saham, saham juga dapat membuat investor mengalami kerugian besar dalam waktu singkat.

Jadi bila Anda memutuskan untuk berinvestasi dalam bentuk saham yang perlu ditelaah ulang adalah tingkat risiko yang terkandung (high risk) sesuai dengan tingkat risiko yang bisa Anda tanggung. Jangan sampai berinvestasi dalam bentuk saham memberikan rasa khawatir serta waswas mengakibatkan Anda susah tidur dan stres. Kenali tingkat risiko Anda dan ambil keputusan berdasarkan hal itu. Dalam menganalisis perusahaan publik yang ada, perlu diingat keingian Anda berinvestasi di saham untuk jangka waktu yang panjang dengan mendapatkan dividen yang relatif stabil atau menginginkan keuntungan jangka yang lebih pendek dari segi capital gain akibat pertumbuhan perusahaan.

Sebagai investor, terdapat 3 alasan mengapa Anda memilih untuk membeli saham tertentu
Income.
Apabila pertimbangan Anda dalam berinvestasi dalam saham adalah mendapatkan pendapatan yang tetap dari hasil investasi pertahunnya, maka anda bisa membeli saham pada perusahaan yang sudah mapan dan memberikan dividen secara regular.

Growth.
Apabila pertimbangan Anda adalah untuk jangka panjang dan memberikan hasil yang besar di masa datang, berinvestasi pada saham perusahaan yang sedang berkembang (biasanya perusahaan teknologi) memberikan keuntungan yang besar, karena kebijakan dari perusahaan yang sedang berkembang biasanya keuntungan perusahaan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan maka perusahaan tidak memberikan dividen bagi investor. Keuntungan bagi investor hanya dari kenaikan harga saham apabila anda menjual saham tersebut di masa datang (kenaikan harga saham yang besar).

Diversification.
Apabila Anda membeli saham untuk kepentingan portofolio anda maka harus hati-hati dalam melengkapinya. Apakah Anda memerlukan saham untuk pendapatan tetap atau membeli obligasi dengan bunga yang diberikan sebagai pendapatan.

Berinvestasi dalam saham sangat memerlukan pengetahuan yang luas tentang perusahaan itu sendiri (perusahaan dimana Anda ingin menginvestasikan dana anda). Banyak pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul dan harus anda jawab sebelum memutuskan berinvestasi pada saham.

Pertanyaan pertama yang harus Anda ketahui jawabannya adalah perusahaan apa? Dan apa yang dilakukan perusahaan tersebut (line of business)? Berapa besar hutang yang dimiliki oleh perusahaan (debt to equity ratio)? Bagaimana perkembangan industri di mana perusahaan itu berada, serta perkembangan perusahaan itu sendiri?

Informasi atau pengetahuan lain yang harus Anda ketahui adalah pergerakan saham perusahaan itu dalam beberapa tahun belakangan dari 1, 5, sampai 10 tahun yang lalu. Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya. Dengan semua pengetahuan atau informasi yang Anda dapat dari pertanyaan diatas, akan membantu memberikan kejelasan mengenai perusahaan dimana anda akan menginvestasikan dana anda serta prospek ke depan dari perusahaan tersebut.

Anda akan menemukan banyak informasi yang berbeda-beda dari berbagai institusi, Anda harus mempelajari institusi mana yang memiliki pengalaman serta kridibilitas yang tinggi sehingga informasi yang Anda terima benar-benar adanya dan akurat. Sehingga informasi tersebut dapat membantu anda melakukan keputusan mengenai investasi yang anda ambil.


Bertransaksi Saham
Sebelum Anda dapat melakukan transaksi saham di pasar modal, Anda sebagai investor harus menjadi nasabah perusahaan Efek yang terdaftar di pasar modal yang sekarang jumlahnya sebanyak 185 perusahaan. Pertama yang harus dilakukan adalah membuka rekening dengan mengisi dokumen pembukuan. Besarnya dana yang harus ditempatkan atau deposit wajib bagi investor besarnya berbeda untuk bermacam perusahaan. Ada perusahaan yang mewajibkan investor untuk menempatkan dana sebesar Rp 25 juta untuk dapat berinvestasi atau bertransaksi di pasar modal. Ada juga yang mengharuskan hanya Rp 15 juta. Namun ada juga perusahaan Efek yang menentukan misalnya 50 persen dari nilai transaksi yang harus ditempatkan. Misalnya bila Anda ingin berinvestasi saham sebesar Rp 10 juta, Anda hanya wajib menempatkan Rp 5 juta.

Dalam perdagangan saham, jumlah yang diperjualbelikan dilakukan dalam satuan perdagangan yang disebut lot. Di Bursa Efek Jakarta, satu lot berarti 500 lembar saham (khusus untuk saham perbankan satu lotnya berjumlah 5000 lembar saham). Misalnya harga saham PT. Telkom adalah Rp 3.000. Maka untuk bertransaksi minimun Anda harus mengeluarkan dana Rp 1.500.000 atau (Rp 3.000 x 500 lembar saham per satu lot).

Demikianlah berbagai dasar pengertian dari saham serta pentinga keberadaan pasar modal bagi suatu negara. Semoga informasi ini dapat membantu Anda memberikan perspektif terhadap transaksi saham di pasar modal. Semoga bermanfaat. (*)

Sumber: http://www.arthanusa.com/index.php?option=com_content&task=view&id=593&Itemid=44


Transaksi Saham, Faktor-Faktor Penting yang Harus Dipertimbangkan

Ekspektasi atau motivasi setiap investor adalah mendapatkan keuntungan dari transaksi investasi yang mereka la-kukan. Para investor yang bermain di pasar modal, khususnya saham, pasti memiliki motivasi yang sama pula, yaitu mendapatkan keuntungan. Bermain saham memiliki potensi keuntungan dalam 2 (dua) hal, pertama, pembagian deviden dan kenaikan harga saham (capital gain).

Dividen merupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada semua pemegang saham. Biasanya dilakukan satu tahun sekali. Bentuk dari diveden itu sendiri, bisa berupa uang tunai ataupun bentuk penambahan saham. Sedangkan capital gain, didapat berdasarkan selisih harga jual saham dengan harga beli. Di mana keuntungan didapat bila harga jual saham lebih tinggi dari harga beli saham.

Ini hanyalah sepotong dari keseluruhan bentuk investasi saham. Satu hal penting lain yang harus dipertimbangkan adalah ketidakpastian alias risiko. Karena investasi tidak akan terlepas dari pendapatan dan risiko. Hukum investasi yang tidak dapat dipungkiri adalah semakin tinggi ekspektasi pendapatan akan semakin tinggi pula risiko yang harus Anda ambil. Oleh karena mengenali tingkat toleransi Anda terhadap risiko akan memberikan masukan penting bagi Anda, apakah jenis investasi ini sesuai dengan apa yang Anda inginkan?

Tidaklah gampang untuk memutuskan saham mana yang akan Anda pilih dari sekian banyak saham yang tercatat (listing) di pasar modal. Sebelum Anda terjun, ikut ambil bagian dalam investasi di pasar modal khususnya saham, ada beberapa faktor penting yang menurut hemat kami harus Anda pertimbangkan sebagai investor.

Expected Rate of Return;E(r))

Dalam hal ini, E(r) bergantung terhadap tiga hal, yaitu harga pembelian, deviden dan kenaikan harga. Hal ini karena, potensi pendapatan atau keuntungan dari bermaian saham didapt dari dua jenis pendapatan yaitu, deviden dan capital gain.

Sebagin contoh, bila seorang investor membeli saham PT. A seharga Rp 5.000/lembar sahamnya seba-nyak 2 lot (1000 lembar saham) maka total investasinya sebanyak Rp.5 juta. Diharapkan tahun depan, perusahaan A akan membagikan dividen sebesar Rp 200/ lembar sahamnya dan pada saat itu harga dari saham mengalami kenaikan sampai harga Rp.5.600. Sehingga E(r) investor tersebut adalah sebesar 16 persen/tahun [(5600+200-5000)/5000)].

Ekspektasi tingkat pengembalian dapat diukur dan diperhitungkan dengan adanya horizon waktu yang telah ditetapkan. Dikaitkan dengan perencanaan investasi yang akan seharusnya Anda lakukan, penetapan horizon waktu harus disesuaikan dengan jangka waktu pencapaian tujuan keuangan yang Anda dan keluarga inginkan.

Risiko

Risiko merupakan penyimpangan dari ekspektasi tingkat pengembalian yang diharapkan, karena bisa saja, harga saham yang diharapkan naik malah mengalami penurunan atau Anda mengharapkan perusahaan akan beroperasi dengan baik dan mendapatkan keuntungan ternyata malah mengalami kerugian yang berakibat perusahaan harus memutuskan untuk tidak memberikan deviden kepada para pemegang sahamnya.

Dalam mengambil keputusan untuk bertransaksi di saham, investor sebaiknya juga mempertimbangkan tingkat toleransi mereka terhadap risiko. Jangan sampai bermain saham membuat Anda tidak bisa tidur dan stres.

Seorang investor dapat dikatakan risk averse (menghindari risiko) di mana mereka hanya mau mengambil investasi tanpa risiko atau risk-free investment. Sedangkan risk neutral (tidak mempertimbangkan risiko) adalah kelopok investor yang melihat investasi dengan risiko tinggi hanya sebatas ekspektasi tingkat pengembaliannya.

Yang terakhir adalah risk lover (menyukai risiko). Investor kelompok ini adalah mereka yang suka dengan risiko, di mana mengambil investasi dengan tingkat risiko tinggi juga karena kesenangan mereka terhadap risiko.

Jadi perlu adanya pertimbangan dalam menentukan tingkat toleransi Anda terhadap risiko agar Anda dapat memilih atau menentukan perimbangan yang optimal dari ekpekasi tingkat pengembalian dengan risiko dalam bertransaksi saham.

Menentukan tingkat toleransi Anda terhadap risiko dipengaruhi oleh banyak hal seperti usia, tingkat pendapatan, lingkungan di mana Anda dibesarkan, jangka waktu investasi, keadaan psikologis Anda dan masih banyak lagi. Bila secara keuangan Anda sudah mapan, di mana investasi yang Anda lakukan di saham tidak akan banyak mempengaruhi keadaan keuangan keluarga Anda maka secara mudah akan mengambil risiko yang tinggi.

Tapi bila investasi yang Anda lakukan pada instrumen saham sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi keuangan Anda dana keluarga khsususnya untuk jangka panjang, maka Anda cenderung berhati-hati dalam menentukan risiko yang akan diambil.

Premi Risiko (Pr)

Premi risiko adalah besarnya tambahan tingkat pengembalin yang diharapkan investor, sebagai kompensasi atas kesanggupan untuk menanggung risiko yang lebih besar. Secara matematis Pr merupakan selisih dari E(r) dengan suku bunga bebas risiko (rf). Tingkat suku bunga SBI atau deposito bisa menjadi pendekatan terhadap angka rf. Misalkan rf adalah sebesar 10 persen/tahun (berdasarkan tingkat suku bunga deposito) dan E(r) dari investor adalah 15 persen/tahun, sehingga investor mengharapkan nilai kompensasi sebesar 5 persen untuk risiko yang harus ditanggung.
Logikanya, investor tidak akan membeli saham bila E(r)nya £ rf, karena akan lebih aman menempatkan dana dalam bentuk deposito yang memberikan tingkat pengembalian yang pasti (tanpa risiko).

Pendapatan

Dalam uraian di awal pembahasan telah diberikan bahwa terdapat 2 (dua) potensi keuntungan dalam bermain saham, yaitu deviden dan capital gain. Melihat potensi keuntungan yang bisa didapat, bila Anda melihat jangka waktu yang panjang, saham dengan dividend yield—dividen atau saham dibagi harga 1 lembar saham di pasar—tinggi dapat menjadi alternatif pilihan. Di mana Anda akan memegang saham tersebut untuk mendapatkan keuntungan dividen yang regular setiap tahun. Sedangkan untuk investor yang tidak mengharapkan deviden dalam jangka waktu pendek, memilih saham perusahaan yang tingkat pertumbuhan labanya tinggi (growth stock).
Perusahaan sejenis ini biasanya tidak membagikan deviden atau memberikan deviden dalam jumlah kecil dan sebagian besar keuntungan perusahaan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan. Dalam jangka waktu panjang, investor diharapkan akan mendapatkan keuntungan atau pendapatan dalam bentuk kenaikan harga saham.

Bila Anda melihat atau memperhatikan Bursa Efek Jakarta, maka Anda akan mendapatkan sebagian besar dari investor individu yang bermain di sana hanyalah investor jangka pendek. Perusahaan sekuritas atau dana pensiun akan lebih melihat portofolio sahamnya dalam jangka waktu yang lebih panjang. Tetapi sayangnya dengan keadaan pasar modal saat ini yang kurang bergairah, membuat banyak investor, baik individu maupun institusi menunda waktunya untuk mengalokasikan atau menginvestasikan dananya di bursa saham. Semakin hari total volume transaksi di bursa efek kian tipis. Hal ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain keadaan ekonomi atau politik di Indonesia yang masih kurang kondusif.

Pajak

Setiap keuntungan atau pendapatan dari berbagai jenis investasi akan selalu dibebani oleh pajak. Demikian pula dengan investasi saham. pendapatan Anda dari deviden pasti dikenai pajak, demikian juga dengan pendapatan dari capital gain.

Perbedaannya, pajak dari capital gain baru dikenakan jika investor memperoleh keuntungan dari penjualan sahan yang dimilikinya. Hal ini mengapa perlu dipertimbangkan karena pajak bisa sangat mempengaruhi keuntungan yang potensial untuk Anda peroleh.

Sendi dasar dari semua bentuk investasi adalah adanya aturan main yang jelas dan transparan. Dalam bermain saham, para investor juga sangat mengharapkan bahwa bursa yang ada juga memberikan semua ini kepada mereka, sehingga para investor yang bermain di bursa tidak merasa dirugikan. Aturan, baik aturan pajak maupun aturan main para member Bursa harus dipegang teguh, sehingga memberikan nilai tambah kepada pasar itu sendiri. Yang pada akhirnya akan menarik investor untuk turut berpartisipasi dalam transaksi di Bursa khususnya saham.

Biaya Transaksi

Melakukan jual beli di bursa saham tidaklah gratis, investor dalam hal ini harus membayar biaya transaksi. Besarnya biaya transaksi sekitar 0,033 persen dari total biaya pembelian saham. Biaya transaksi lain adalah komisi, di mana besarnya bergantung dengan perusahaan pialang Anda, kisaran besarnya biaya komisi adalah 0.2 persen dari total harga pembelian saham. Hal ini karena perdagangan di bursa menggunakan jasa pialang (broker).

Sebelum melakukan perdagangan di bursa saham maka sebaiknya Anda mengetahui berbagai biaya yang harus Anda keluarkan setiap kali Anda melakukan perdagangan atau jual beli saham. Sehingga hal ini tidak membuat Anda bingung dan merasa dirugikan di kemudian hari.

Kondisi Keuangan Anda

Kondisi keuangan keluarga saat ini, yang menurut hemat kami perlu menjadi pertimbangan paling awal sebelum Anda memutuskan untuk bermain saham di Bursa. Bila Anda ingin ikut bertransaksi saham maka sebaiknya Anda sudah menganggarkan dana memang untuk investasi ini. Kebutuhan akan dana darurat atau pos dana untuk emergency fund harus dialokasikan terlebih dahulu. Jangan Anda menggunakan dana ini untuk berinvestasi. Karena kebutuhan yang tidak terduga, penempatan dalam investasi yang likuid menjadi prioritas.

Melakukan transaksi saham sebaiknya dilakukan bila keadaan keuangan keluarga Anda sudah cukup mapan. Mapan di sini diartikan sebagai keadaan di mana Anda memiliki dana yang cukup besar untuk turut berinvestasi di Bursa saham. Jadi berinvestasi dalam Bursa saham jangan sampai malah merusak tatanan keuangan keluarga yang telah Anda bangun bersama selama ini.
Satu hal yang juga harus diperhatikan adalah waktu yang Anda miliki untuk mengikuti perubahan atau analisa untuk membeli saham tertentu. Bila waktu Anda terbatas maka sebaiknya Anda mencoba dulu untuk bermain di Reksadana saham. Dengan bertransaksi Reksadana pengelolaan dana Anda serahkan kepada menejer investasi profesional.

Jadi banyak faktor yang perlu Anda pertimbangkan dan dipikirkan matang-matang sebelum Anda terjun ke dalam Bursa saham. Faktor-faktor di atas merupakan gambaran kasar dari seluk beluk investasi saham. Masih banyak ilmu yang harus ditimba, sehingga Anda mendapatkan keseimbangan komposisi tingkat pengembalian dengan risiko yang terkandung. Semoga pembahasan singkat ini memberikan masukan dan tambahan bahan pertimbangan agar Anda dapat mengambil keputusan terbaik bagi keuangan atau investasi yang Anda lakukan.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/eureka/2003/032/eur1.html


Penentu Sikap Orang Terhadap Investasi

Mengapa seseorang menjadi bersifat konservatif, atau bahkan agresif dalam berinvestasi? Faktor-faktornya dijelaskan berikut ini.

Mengembangkan dana yang kita miliki semaksimal mungkin, umumnya dilakukan dengan cara investasi. Seperti yang kita pahami, investasi beresiko tinggi biasanya mendatangkan keuntungan yang besar, dan sebaliknya, investasi beresiko rendah, biasanya keuntungannya pun kecil. Maka itu setiap individu berbeda-beda kecenderungannya dalam berinvestasi. Ada yang konservatif, ada yang sedikit berani, dan ada pula yang sangat berani atau agresif. Faktor apa saja yang kira-kira mereka perhitungkan sehingga bisa berbeda-beda kecenderungan, dijabarkan oleh Presiden Direktur Karim Business Consulting, Adiwarman Karim.

“Kali ini kita akan bahas kali ini adalah, faktor-faktor apa yang membuat orang bisa kita bagi menjadi tipe-tipe yang kita bahas sebelumnya, konservatif, cautious, prudent, asertif dan agresif.

Beberapa faktor yangmenentukan adalah umurnya. Semakin muda seseorang, makin terbuka berbagai alternatif dia untuk melakukan investasi, dengan berbagai return dan resiko yang juga sangat beragam. Relatif semakin muda semakin berani mengambil resiko yang lebih tinggi.

Yang kedua adalah faktor harapan hidup seseorang. Semakin tinggi kesadaran individu akan kesehatan, fasilitas kesehatan dan gaya hidup, membuat orang memiliki harapan hidup yang lebih baik. Ini menyebabkan banyak orang lebih sehat, tapi di sisi lain menyebabkan orang harus menyiapkan hidup lebih lama. Jadi harus lebih hati-hati dalam melakukan perencanaan ke depan.

Yang ketiga adalah variabel tanggungjawab keuangan dari individu. Pada satu kebudyaan, tanggung jawab hanya terbatas pada suami istri dan anak-anak. Tapi pada kebudayaan lain mengatakan tidak. Orang tua, adik-adik bahkan keponakan bisa merupakan tanggung jawab keuangan yang mereka tanggung. Ini juga akan mempengaruhi tipe-tipe orang yang sudah kita bahas.

Yang berikutnya adalah periode waktu. Semakin besar periode waktu untuk mengakumulasi kekayaaan, maka semakin besar pula resiko ketidakmampuan atau ketidakpastian mencapai arus kas yang diharapkan. Misalkan kalau rencana kita 25 tahun, lebih tidak pasti dibandingkan kalau rencananya kita pecah jadi 5 tahunan. Karena berbagai variabel menjadi sangat fluktuatif kalau jangka waktunya lebih panjang.”

Empat faktor pertama tadi, sekali lagi adalah usia, harapan hidup, besarnya tanggung jawab keuangan dan periode waktu. Faktor berikutnya adalah jenis pendekatan yang digunakan, sumber pendapatan, tingkat pengembalian pasar dan toleransi resiko. Adiwarman Karim menjelaskan lebih lanjut.

"Yang kelima adalah variable jenis pendekatan. Kemarin kita bahas kalau investasi yang sifatnya konservatif, moderat, agresif, tergantung dari tipe individunya.

Variabel keenam adalah sumber pendapatan. Ini merupakan satu hal yang penting, karena mereka yang punya sumber pendapatan lebih dari satu, tentu akan berbeda. Misalnya selain gaji tetap mempunyai pendapatan sampingan, misalnya jadi public speaker, di mana dia bisa memperkirakan tambahan pendapatannya. Orang yang punya pendapatan lebih banyak, lebih leluasa, lebih berani untuk mengambil perencanaan. Lebih agresif dalam merencanakannya, daripada orang yang sumber pendapatannya cuma satu itu saja. Orang yang sumber pendapatannya cuma satu itu saja, akan cenderung lebih konservatif.

Yang ketuju adalah variabel tentang tingkat pengembalian pasar yang diharapkan. Maksudnya tingkat return dari investasi yang mereka buat. Semakin tinggi tingkat persaingan antara perencanaan keuangan yang satu daripada yang lainnya, ini kadang bisa membuat tingkat pengembaliannya lebih kecil. Dalam artian di sini tentu kita ingin mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Kalau pasar yang pemainnya, pilihannya cuma sedikit, misalnya ambil contoh syariah yang instrumennya belum banyak, tentu di sini returnya tidak kompetitif, artinya orang dikasi return yang kecil, orang mau saja.. Tapi kalau pilihannya banyak, maka akan terjadi persaingan yang lebih ketat, karena masing-masing portfolio investasi akan berupaya menang dalam kompetisi tersebut.

Yang kedelapan adalah toleransi resiko. Misalnya orang punya 100 juta, lebih berani mengambil resiko 10 juta, dibanding orang yang punya 20 juta, kemudian harus menanggung kerugian 10 juta.”

Itulah 8 faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berinvestasi. Dan bagi mereka yang belum pernah berinvestasi, ke-8 faktor tadi bisa menjadi bahan acuan, seperti dijelaskan oleh Adiwarman Karim, Presiden Direktur Karim Business Consulting. [aji : aji @ mediacorp.com.sg]

sumber: http://www.rsi.sg/indonesian/arthakelola/view/20061113201700/1/.html


jurnal akuntansi

Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
ANALISIS FAKTOR FUNDAMENTAL DAN RISIKO
SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM PROPERTI DI
BEJ
Njo Anastasia
Staf Pengajar Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
Yanny Widiastuty Gunawan
Imelda Wijiyanti
Alumni, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra
ABSTRAK
Properti merupakan salah satu sektor yang terpuruk sejak krisis
ekonomi. Hal ini mengakibatkan harga saham properti di bursa efek juga
terpuruk. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
faktor-faktor fundamental dan risiko sistematik yang mempengaruhi
harga saham di sektor properti.
Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling method.
Dari tiga puluh tiga perusahaan, hanya diambil tiga belas perusahaan,
karena memiliki laporan keuangan secara lengkap tahun 1996-2001.
Hasil penelitian menunjukkan hanya faktor fundamental Book Value
(BV) yang mempengaruhi harga saham secara parsial, sedangkan faktor
fundamental yang lainnya tidak berpengaruh.
Kata kunci: faktor fundamental, risiko sistematik, harga saham sektor
properti.
ABSTRACT
Property was one of sectors that suffer very much during economic
crisis. This caused the securities property price decrease on stock
exchange. The objective of this research is to understand fundamental
factors and systematic risk that influence securities price on property
sector.
The sample method uses purposive sampling method. From thirty
three companies, only thirteen companies are selected, because the
financial statement from each company are complete since 1996-2001.
This research shows that only book value brings influence on the
security price partially, but not the other variable.
Keywords: fundamental factors, systematic risk, stock price of property
sector.
Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 5, No. 2, Nopember 2003: 123 - 132
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
124
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah
Banyak masyarakat menginvestasikan modalnya di industri properti dikarenakan
harga tanah yang cenderung naik. Penyebabnya adalah supply tanah bersifat tetap
sedangkan demand akan selalu besar seiring pertambahan penduduk. Kenaikan yang
terjadi pada harga tanah diperkirakan 40%. Selain itu, harga tanah bersifat rigid,
artinya penentu harga bukanlah pasar tetapi orang yang menguasai tanah (Rachbini
1997).
Investasi di bidang properti pada umumnya bersifat jangka panjang dan akan
bertumbuh sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Namun sejak krisis ekonomi tahun
1998, banyak perusahaan pengembang mengalami kesulitan karena memiliki hutang
dolar Amerika dalam jumlah besar. Suku bunga kredit melonjak hingga 50% sehingga
pengembang kesulitan membayar cicilan kredit (Kompas 2003). Menurunnya kinerja
perusahaan akan direspon investor di pasar modal sehingga mempengaruhi harga
pasar saham.
Namun pada tahun 2004, diperkirakan bisnis properti akan mengalami masa
kejayaan seperti tahun 1996, dikarenakan siklus perkembangan properti setiap tujuh
tahun sekali mengalami perubahan. Tahun 2007 diperkirakan properti mencapai
puncaknya dan menuju titik balik sehingga developer sudah mengantisipasi
kemungkinan risiko yang muncul di periode akan datang (Ciputra 2001)
Sebenarnya iklim investasi di bidang properti mulai bangkit sejak tahun 2000 dan
saat ini beberapa bank telah menurunkan suku bunga kredit menjadi 15%. Kegiatan
ini membangkitkan pasar properti yang sejalan dengan perbaikan kinerja beberapa
emiten properti. Tercatat di tahun 2002, Ciputra Surya mengalami kenaikan penjualan
perumahan di Surabaya 39% dan merestrukturisasi hutang, sehingga akhir Maret
2003 hanya tercatat hutang sebesar Rp. 219 Milyar. Rasio harga saham 0.2 dari nilai
buku. Duta Pertiwi juga mengalami pertumbuhan penjualan sebesar 61% tahun 1999-
2002 dan telah merestrukturisasi hutang sehingga rasio hutang bersih terhadap
ekuitas perusahaan adalah 36%. Harga saham naik tiga kali dalam dua tahun terakhir
(Kompas 2003).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang timbul adalah,
“Apakah faktor-faktor fundamental (ROA, ROE, Book Value, DER, r) dan risiko
sistematik (beta) mempengaruhi harga saham perusahaan properti baik secara
bersama-sama maupun secara parsial?”
1.2 Landasan Teori
Untuk melakukan investasi dalam bentuk saham diperlukan analisis untuk
mengukur nilai saham, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Tujuan
analisis fundamental adalah menentukan apakah nilai saham berada pada posisi
undervalue atau overvalue. Saham dikatakan undervalue bilamana harga saham di
pasar saham lebih kecil dari harga wajar atau nilai yang seharusnya, demikian juga
sebaliknya.
Menurut Francis (1988),
Analisis Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap …… (Anastasia et al.)
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
125
“In preparing their estimate of security’s value, fundamental analysts study the
basic financial and economic facts about the company that issues the security. They
study the level and trend of the firm’s sales and earnings, the quality of the firm’s
products, the firm’s competitive position in the markets where its products are sold,
the firm’s labor relations, the firm’s sources of raw materials. The government rules
that apply to the firm, and many other factors that may affect the value of the
firm’s common stock”
Dapat dikatakan bahwa untuk memperkirakan harga saham dapat menggunakan
analisa fundamental yang menganalisa kondisi keuangan dan ekonomi perusahaan
yang menerbitkan saham tersebut. Analisanya dapat meliputi trend penjualan dan
keuntungan perusahaan, kualitas produk, posisi persaingan perusahaan di pasar,
hubungan kerja pihak perusahaan dengan karyawan, sumber bahan mentah,
peraturan-peraturan perusahaan dan beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi
nilai saham perusahaan tersebut.
Analisis fundamental berkaitan dengan penilaian kinerja perusahaan, tentang
efektifitas dan efisiensi perusahaan mencapai sasarannya (Stoner et al. 1995). Untuk
menganalisis kinerja perusahaan dapat digunakan rasio keuangan yang terbagi dalam
empat kelompok, yaitu rasio likuiditas, aktivitas, hutang, dan profitabilitas (Gitman
2003). Dengan analisis tersebut, para analisis mencoba memperkirakan harga saham
dimasa yang akan datang dengan mengestimasi nilai dari faktor-faktor fundamental
yang mempengaruhi harga saham dimasa yang akan datang dan menerapkan
hubungan faktor-faktor tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Umumnya faktor-faktor fundamental yang diteliti adalah nilai intrinsik, nilai pasar,
Return On Total Assets (ROA), Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE),
Book Value (BV), Debt Equity Ratio (DER), Deviden Earning, Price Earning Ratio
(PER), Deviden Payout Ratio (DPR), Deviden Yield, dan likuiditas saham.
Analisis teknikal menggunakan data pasar yang dipublikasikan yaitu harga
saham, volume perdagangan, indeks harga saham individual maupun gabungan untuk
berusaha mengakses permintaan dan penawaran saham tertentu maupun pasar secara
keseluruhan. Menurut Malkiel (1996), pendekatan ini pada intinya membuat serta
menginterpretasikan grafik saham ditinjau dari pergerakan harga saham dan volume
transaksinya untuk mendapatkan petunjuk tentang arah perubahan di masa yang
akan datang.
Menurut Jones (1996),
“Systematic risk as is shown in part two on portfolio management an investor can
construct a diversified portfolio and eliminate part of the total risk. The
diversiviable or non market part. What is left is the diversiviable portion or the
market risk variability in a securities total return that is directly associated with
overall movements in the general market or economy”.
Jadi risiko sistematik dari suatu sekuritas atau portofolio yang relatif terhadap
risiko pasar dapat diukur dengan beta. Beta suatu sekuritas adalah kuantitatif yang
mengukur sensitivitas keuntungan dari suatu sekuritas dalam merespon pergerakan
Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 5, No. 2, Nopember 2003: 123 - 132
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
126
keuntungan pasar. Semakin tinggi tingkat beta, semakin tinggi risiko sistematik yang
tidak dapat dihilangkan karena diversifikasi.
Untuk menghitung beta digunakan teknik regresi, yaitu mengestimasi beta suatu
sekuritas dengan menggunakan return-return sekuritas sebagai variabel terikat dan
return-return pasar sebagai variabel bebas.
Dalam penilaian saham, terdapat beberapa model teoritis yang dapat digunakan
terkait dengan analisis fundamental dan analisis teknikal. Namun secara sederhana
variabilitas harga saham tergantung pada earning dan deviden suatu perusahaan
seperti yang dinyatakan Fuller and Farrell (1987), “key determinant of security price is
expectations concerning the firm’s earning and dividends and their associated risk”.
Model yang dikembangkan adalah pendekatan Gordon yaitu Devidend Discount
Model (DDM) yang constant growth. Faktor-faktor tersebut sebagai variabel bebas yang
didasarkan pada pemikiran bahwa faktor tersebut menggambarkan risiko dan return
yang akan diterima para pemodal atas investasinya pada saham. Turunan pendekatan
DDM dalam menentukan harga saham adalah:
(r - g)
Deviden
P 1
0 = (1)
Dimana:
D1 = EPS x b
EPS = EAT/Total Saham
b = Payout ratio = D/EPS
Po = Harga Saham
r = Required Rate of Return
Model (1) disubstitusikan, sehingga menjadi sebagai berikut :
(r - g)
EPS x (b)
P0 = (2)
Dimana:
EPS = EAT/Total Saham = ROE x (Book Value)
BVS = Equity/Total Saham
Model (2) disubstitusikan, sehingga menjadi sebagai berikut :
(r g)
ROE x (BV) x (b)
P0 -
= (3)
Dimana:
ROE = EAT/Equity = ROA x (1 + Debt Equity Ratio)
Model (3) disubstitusikan, sehingga menjadi sebagai berikut :
(r - g)
ROA x ( 1 ) x (BV) x (b)
P0
+ Debt/Equity
= (4)
Model (4) menurut Fuller and farrell (1987), growth rate dapat diturunkan sebagai
berikut:
Analisis Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap …… (Anastasia et al.)
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
127
o
1 o
D
D - D
g = (5)
Dimana:
D1 = EPS1 x (Payout Ratio)
D0 = EPS0 x (Payout Ratio)
Jika Payout Ratio (b) adalah konstan maka:
o
1 o
EPS
EPS - EPS
g = (6)
Dimana:
EPS1 = ROE x Book Value t
EPS0 = ROE x Book Value t-1
Jika ROE adalah konstan, maka :
t
t t-1
BV
BV - BV
g = (7)
Jika tidak ada penambahan dana (emisi), maka perubahan nilai buku (BVt - BVt-1)
sama dengan EPS0 – D0 = EPS0 x (1-b) maka :
(1 b)
BV
EPS
BV
EPS x (1 - b)
g
t-1 t -1
= 0 = 0 - (8)
Jadi g = ROE x (1-b)
Sehingga model 2, 3, 4 jika disubstitusikan menjadi :
r - ROE (1 - b)
ROA x (1 ) x (BV) x (b)
P0
+ Debt/Equity
= (9)
Sedangkan untuk pencarian beta dan r diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
t-1
t t-1
m IHSG
IHSG - IHSG
R = (10)
t-1
t t-1 t
i Pi
Pi - Pi Di
R
+
= (11)
Dimana:
R m = Return market
IHSG = Indeks Harga Saham Gabungan
Pi t = Harga Saham i bulan t
Pit-1 = Harga Saham i bulan t-1
Di = Deviden saham i
Ri = Return saham i
å å
å å å =
( n R - ( R ) )
( n R * R - R R )
Beta 2
m
2
m
m i m i (12)
Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 5, No. 2, Nopember 2003: 123 - 132
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
128
Model CAPM à r = Rf + ( beta x (Rm - Rf )) (13)
Dimana:
r = Required Rate of Return
R f = Risk Free
R m = Return Market
Beta = Risiko Sistematik
Maka dari model-model tersebut di atas dapat ditulis suatu fungsi :
Harga saham (P 0) = f (ROA, ROE, BV, b, DER, r, beta)
dimana ROA (Return on Total Asset), ROE (Return On Equity), BV (Book Value), b
(Payout Ratio), DER (Debt Equity Ratio) merupakan variabel dari analisis fundamental.
Sedangkan r (Required Rate of Return) dapat dicari menggunakan model CAPM, dan
untuk menggambarkan risiko sistematik, yang dimasukkan dalam model analisis
adalah variabel beta.
Variabel ROA mewakili efektifitas “earning power” perusahaan yang mencerminkan
kinerja manajemen dalam menghasilkan laba bersamaan dengan aset yang ada.
Variabel ROE digunakan untuk mengukur pengembalian modal pemilik perusahaan.
Variabel BV mengukur nilai buku per lembar saham. Variabel Payout Ratio
menunjukkan prosentase dari pendapatan yang akan dibayarkan pada pemegang
saham sebagai cash deviden. Variabel DER mewakili proporsi hutang terhadap modal
perusahaan.
Pemilihan faktor-faktor di atas sebagai variabel bebas didasarkan pemikiran bahwa
faktor tersebut menggambarkan risiko dan return yang akan diterima para pemodal
atas investasinya pada saham.
1.3 Hipotesis
HA1: Faktor fundamental (ROA,ROE,BV,b,DER,r) dan risiko sistematik (beta)
berpengaruh secara bersama-sama terhadap harga saham perusahaan properti.
HA2: Faktor fundamental (ROA,ROE,BV,b,DER,r) dan risiko sistematik (beta)
berpengaruh secara parsial terhadap harga saham perusahaan properti.
2. METODE PENELITIAN
Pengambilan sampel dilakukan dengan pendekatan non propability random
sampling dengan metode purposive sampling. Sampel yang diambil adalah seluruh
perusahaan properti (33 perusahaan) yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang
memiliki laporan keuangan lengkap selama enam tahun terakhir dari tahun 1996
sampai 2001.
Berdasarkan kriteria di atas maka, ada 13 sampel yang dapat mewakili populasi dan
memenuhi syarat yaitu: Bhuwanatala Indah Permai, Ciputra Development, Duta
Anggada Realty, Dharmala Intiland, Duta Pertiwi, Jakarta Internasional Hotel
Development, Kawasan Industri Jababeka, Lippo Karawaci, Lippo Land Development,
Putra Surya Perkasa, Pakuwon Jati, Suryamas Duta Makmur, Summarecon Agung.
Analisis Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap …… (Anastasia et al.)
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
129
Sebelum melakukan estimasi yang tidak bias dengan analisis regresi perlu
dilakukan uji BLUE, yaitu pengujian antar variabel bebas supaya tidak terjadi
multikolinieritas, heteroskedastisitas, normalitas, dan autokorelasi. Bentuk model yang
digunakan adalah:
Y = a + â1 X1 + â2 X2 + â3 X3 + â4 X4 + â5 X5 + â6 X6 + â7 X7 + e
Dimana:
Y = Harga Saham X5 = DER
a = Konstanta X6 = required rate of return
X1 = ROA X7 = beta (risiko sistematik)
X2 = ROE e = Kesalahan pengganggu
X3 = BV â1-7 = Koefisien Regresi
X4 = Payout Ratio
3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan-perusahaan properti dari tahun 1996-
2001, terlihat bahwa rata-rata perusahaan sejak tahun 1996-1998 mengalami
penurunan kinerja perusahaan akibat krisis ekonomi. Namun di tahun 1999-2001
kinerja perusahaan mengalami sedikit perbaikan, sehingga dalam penelitian ini
digunakan periode-periode di atas.
Untuk menentukan besarnya beta dan r diperlukan data closing price harian, IHSG
mingguan, dan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) selama enam tahun (1996-2001).
Pengujian hipotesis tentang kekuatan variabel bebas terhadap harga saham
menggunakan program SPSS 10.00, dimana sebelum dilakukan analisis regresi
dilakukan uji BLUE.
Namun setelah dilakukan pengecekan data dari laporan keuangan ternyata b
(Payout Ratio) tidak dimasukkan dalam analisis dikarenakan nilainya nol selama
periode penelitian. Hasil penelitian ditunjukkan pada tabel 1.
Berdasarkan tabel 1 dan 2, antar variabel bebas tidak saling berkorelasi karena
tingkat korelasinya dibawah 95% dan nilai VIF masing-masing variabel dibawah 10
(Ghozali 2001), sehingga dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas.
Sedangkan pada uji autokorelasi, nilai DW (Durbin-Watson) adalah 1,414 dimana
nilai tersebut lebih rendah dari batas bawah atau lower bound (dl) yaitu 1,51 berarti
ada autokorelasi positif. Hal ini disebabkan data penelitian berurutan sepanjang waktu
atau time series sehingga terjadi “gangguan” dari satu observasi ke observasi lainnya.
Pada penelitian yang sebelumnya dengan periode 1996-2000 tidak terjadi
autokorelasi namun terjadi multikolinearitas, sehingga salah satu variabel dihilangkan
untuk memenuhi syarat BLUE. Dengan adanya perpanjangan periode satu tahun
diharapkan problem tersebut hilang namun yang terjadi adalah problem autokorelasi
bukan multikolinearitas. Oleh karena itu dalam penelitian ini autokorelasi model ini
diabaikan dengan data yang diperpanjang satu tahun, supaya penelitian ini dapat
memberikan hasil yang terbaru.
Tabel 1
Hasil Estimasi Regresi
Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 5, No. 2, Nopember 2003: 123 - 132
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
130
Koefisien
Regresi
t-statistik Sig-t VIF
Konstanta
ROA
ROE
BV
BETA
DER
r
557,966
0,074
0,289
0,303
-36,099
4,869
-4,469
0,266
0,654
4,993
-0,357
0,784
-0,689
0,791
0,515
0,000
0,722
0,436
0,493
1,156
3,695
1,143
4,207
3,585
4,352
R square
Adj. R square
F-statistik
Sig-F
Durbin-Watson
0,303
0,244
5,135
0,000
1,414
(Sumber: survei, data diolah)
Tabel 2
Hasil Korelasi antar Variabel Bebas
Variabel Korelasi
ROA – ROE
ROA – BV
ROA – BETA
ROA – DER
ROA – r
ROE – BV
ROE – BETA
ROE – DER
ROE – r
BV – BETA
BV – DER
BV – r
BETA – DER
BETA – r
DER – r
-0,107
-0,304
-0,137
-0,060
-0,116
-0,041
-0,262
0,846
-0,315
0,058
-0,105
-0,001
-0,223
0,871
-0,271
(Sumber: survei, data diolah)
Uji normalitas menunjukkan hasil bahwa model regresi yang diteliti untuk variabel
bebas dan variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal.
Sedangkan uji pada variabel bebas dan variabel independen juga membuktikan tidak
terjadi heteroskedastisitas. Jadi model ini diasumsikan memenuhi syarat BLUE.
Pada tabel 1, nilai F-hitung 5,135 (p < 0,001) lebih besar dari nilai F-tabel, berarti
masing-masing variabel bebas secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga
saham. Namun pola hubungan faktor fundamental dan resiko sistematik terhadap
harga saham terlihat lemah dikarenakan nilai adjusted R square 0,244. Berarti
variabel bebas pada model regresi ini hanya mampu menjelaskan 24,4% pola
pergerakan harga saham kelompok properti, sedangkan 75,6% dipengaruhi faktorAnalisis
Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap …… (Anastasia et al.)
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
131
faktor lain diluar model. Hal ini memberikan petunjuk pola pergerakan harga saham
bersifat acak, tidak dapat ditentukan, dan atau dipengaruhi sepenuhnya dengan hanya
mengendalikan faktor fundamental perusahaan. Hal ini dikarenakan orientasi investor
adalah capital gain oriented bukan devidend oriented.
Jika melihat hasil uji-t, hanya variabel book value yang berpengaruh secara
signifikan pada level 5%, sedangkan variabel bebas lainnya yaitu ROA, ROE, DER, r,
beta tidak berpengaruh secara parsial terhadap harga saham. Padahal pada penelitianpenelitian
sebelumnya membuktikan ROA sebagai indikator aset perusahaan
berpengaruh dominan terhadap harga saham. Pendapat ini sesuai dengan Modigliani &
Miller (MM) yang menyatakan nilai perusahaan ditentukan oleh earning power dari
aset perusahaan, semakin tinggi earning power semakin tinggi profit margin yang
diperoleh perusahaan sehingga meningkatkan nilai perusahaan (Natarsyah 2000)
Hasil analisa menyebutkan ada pengaruh book value yang memberikan indikasi
bahwa investor bersedia membayar harga saham lebih tinggi apabila ada jaminan
keamanan (safety capital) atau nilai klaim atas aset bersih perusahaan yang semakin
tinggi. Variabel book value merupakan perbandingan nilai buku modal sendiri dengan
jumlah lembar saham beredar. Semakin tinggi nilai buku maka harapan terhadap nilai
pasar saham juga tinggi. Nilai buku mewakili aktiva fisik perusahaan, berarti
perusahaan properti yang memiliki aset yang banyak dan dikelola dengan baik
sehingga dapat memperoleh laba akan cenderung memiliki nilai pasar yang sama
bahkan lebih besar dari nilai bukunya.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1. Secara empiris terbukti bahwa faktor fundamental (ROA,ROE,BV,DER,r) dan risiko
sistematik (beta) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham
perusahaan properti secara bersama-sama.
2. Secara empiris terbukti bahwa hanya variabel book value yang mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan properti secara parsial.
4.2 Saran
1. Investor yang ingin investasi saham di sektor properti, hendaknya
mempertimbangkan faktor fundamental dan psikologi pasar saham secara umum.
2. Hasil penelitian ini mengandung problem autokorelasi, maka pada penelitian
selanjutnya sebaiknya problem tersebut diharapkan tidak terjadi dengan
memperpanjang periode penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Ciputra (2001), “Properti Masa yang Akan Datang”, Jawa Pos, 20 Agustus 2001, p.7.
Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 5, No. 2, Nopember 2003: 123 - 132
Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/accounting/
132
Fuller, Russel J. and Farrell James L.Jr. (1987), Modern Investment and Security
Analysis, International Editions Financial Series, Singapore: McGraw Hill.
Francis, Jack C. (1988), Management of Investment, 2nd ed., International Editions
Financial Series, Singapore: McGraw Hill.
Ghozali, Imam (2001), Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS,
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Gitman, Lawrence J. (2003), Principles of Managerial Finance, 10th ed., International
Editions Financial Series, Boston: Addison-Wesley.
Jones, Sussane (1996), Financial, The Dryden Press
Kompas, 2003, “Investasi Saham Properti Sudah Layak Ditengok”, 27 Mei, p.27
Malkiel, Burton G. (1996), A Random Walks Down Wall Street, 6th ed., WW Norton Inc.
Natarsyah, Syahib (2000), “Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dan
Risiko Sistematik terhadap Harga Saham (Kasus Industri Barang Konsumsi
yang Go Publik di Pasar Modal Indonesia)”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia, volume 15/3
Rachbini (Agustus 1997), “Mungkinkah harganya turun?”, Properti Indonesia, p.26
Stoner, James A.F., R. Edward Freeman, and Daniel R.Gilbert (1995), Management, 6th
ed., New Jersey: Englewood Cliffs



Next 5 >>

<bgsound src="http://us.f13.yahoofs.com/bc/45a32592_1540/bc/Lagu/ost+Mendadak+Dangdut/Dangdutkah+Kita.mp3?bf1QLsFBIT_gbvjL">